Rumah Berkah Tanpa Riba

Bismillah…

Baiti Jannati, Rumahku adalah Surgaku.
Sering kali kita mendengar kalimat tersebut.
Saat kita lelah mengarungi aktifitas hidup kemana kita pergi beristirahat?
Saat kita penat kerja, ingin sekedar tidur dan bersantai,
dimana tempat yang paling cocok?
Tentu jawabnya adalah rumah.

Bicara soal rumah, tidak hanya soal fisik bangunannya.
Rumah adalah tempat dimana kita berkumpul bersama keluarga.
Rumah adalah hunian ternyaman untuk melakukan segala aktifitas privasi dan keluarga.
Rumah adalah sekolahan pertama untuk anak-anak kita.
Bahkan rumah menjadi tempat beribadah paling utama untuk para muslimah.
Rumah adalah surga di bumi yang didambakan dan semoga menjadi tempat terindah untuk menitih jalan menuju surga di akhirat.
Tentunya, tak ada surga yang didapatkan dengan cara yang haram.

Jika kita mendapatkan rumah dengan cara RIBA, mungkinkah ada keberkahan di dalam rumah kita?
Jika keberkahan lenyap dari rumah kita, apa yang akan terjadi dengan kita dan keluarga tercinta?
Bisa jadi, walaupun hidup mewah namun selalu merasa kurang.
Bisa jadi masalah demi masalah akan muncul disebabkan dosa yang terus kita tabung.
Tak ada lagi ketenangan dalam beribadah.

RIBA akan merengkut keberkahan dan kebahagiaan.
Menutup jalan kita menuju surga.
Telah jelas firman Allah ﷻ‎ mengenai ancaman bagi para pelaku riba.
Jika Allah ﷻ‎ dan Rosul-Nya  ﷺ‎ memerangi, maka siapa lagi yang mampu menolong kita?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.
Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zhalim (merugikan) dan tidak dizhalimi (dirugikan).”
~Surat Al-Baqarah, Ayat 278-279~

Allah subhanahu wa taala maha baik dan menerima taubat. Lantas apakah dikarenakan kebaikkan-Nya kita bersantai “ah yauda deh begini dulu, ntar ada saatnya saya akan taubat, Allah kan maha tahu kondisi saya sekarang”.
Kita lupa, bahwa ajal bisa datang tanpa permisi.
Peringatan sudah datang, tidak ada alasan untuk menunda hijrah.

Apakah kita tidak takut dengan ancaman yang sudah jelas tertulis di Al-Quran?

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
~Surat Al-Baqarah, Ayat 275~

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.
~Surat Al-Baqarah, Ayat 276~

Begitu banyak kerugian-kerugian yang akan diterima oleh pelaku riba. Di dunia akan sengsara dan lebih menderita lagi kelak di akhirat. Sangat beruntung kita yang saat ini mendapat teguran dan peringatan dari Allah subhanahu wa taala. Semoga kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya.

Barokallahu fiikum